Universitas Muhammadiyah Kendari Menjadi Pusat Inovasi Penelitian Pertanian Masa Depan
KENDARI—Universitas Muhammadiyah Kendari (Unismuh Kendari) secara resmi meluncurkan program penelitian inovatif yang menggabungkan keahlian dosen dan dedikasi mahasiswa dalam mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan berbasis Internet of Things (IoT). Peluncuran program penelitian ini dilaksanakan pada Kamis, 03 April 2026, bertempat di Aula Gedung Utama Unismuh Kendari, dengan menghadirkan berbagai stakeholder pendidikan, pemerintah lokal, dan komunitas pertani dari Kota Kendari.
Inisiatif penelitian yang diberi nama “Smart Farming Initiative Sulawesi Tenggara” ini merupakan kolaborasi strategis antara Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Ekonomi Bisnis Unismuh Kendari. Program tersebut dirancang khusus untuk mengatasi tantangan pertanian tradisional di wilayah Sulawesi Tenggara dengan mengintegrasikan teknologi sensor pintar, analitik data, dan aplikasi mobile yang user-friendly.
Latar Belakang dan Motivasi Penelitian
Penelitian ini lahir dari observasi mendalam terhadap kondisi pertanian lokal di Sulawesi Tenggara yang masih mengandalkan metode konvensional. Data awal menunjukkan bahwa petani lokal menghadapi kesulitan signifikan dalam manajemen irigasi, monitoring kesehatan tanaman, dan prediksi hasil panen yang akurat. Tingkat produktivitas lahan pertanian di wilayah ini masih tergolong rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional, mencapai hanya 65 persen dari potensi maksimal.
“Kami melihat ada celah besar antara potensi pertanian Sulawesi Tenggara dan realisasinya di lapangan,” ujar Dr. Ir. Bambang Setiawan, M.Sc., Dekan Fakultas Teknik Unismuh Kendari, dalam sambutan pembukaan acara peluncuran. “Penelitian ini bukan sekadar akademis, tetapi solusi konkret yang bisa langsung berdampak pada kehidupan petani kami.”
Dalam dokumen proposal penelitian yang dipaparkan, tim riset mengidentifikasi tiga area utama yang menjadi fokus: pertama, sistem monitoring real-time kondisi tanah dan cuaca; kedua, otomasi irigasi berbasis data prediktif; dan ketiga, platform digital untuk akses informasi pasar dan konsultasi pertanian.
Skema dan Metode Penelitian
Program Smart Farming Initiative Sulawesi Tenggara dirancang dalam tiga fase penelitian yang akan berlangsung selama 24 bulan. Fase pertama, yang telah dimulai sejak Januari 2026, fokus pada pengembangan hardware sensor IoT dan integrasi sistem telemetri. Fase kedua akan melibatkan pengujian lapangan di lima lokasi pertanian pilihan di sekitar Kendari, melibatkan 50 petani responden. Adapun fase ketiga akan difokuskan pada optimisasi algoritma machine learning dan penyempurnaan aplikasi mobile berdasarkan feedback pengguna.
Tim penelitian inti terdiri dari 12 dosen dari berbagai disiplin ilmu dan 45 mahasiswa tingkat akhir serta pascasarjana. Mahasiswa-mahasiswa ini dipilih melalui seleksi ketat berdasarkan prestasi akademik, minat riset, dan komitmen mereka terhadap isu keberlanjutan lingkungan.
Salah satu mahasiswa yang terpilih dalam tim inti adalah Muhammad Rizki Pratama, mahasiswa Teknik Elektro semester 7 dari Unismuh Kendari. “Saya sangat terhormat bisa terlibat dalam proyek sebesar ini. Ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi bisa membawa perubahan nyata bagi masyarakat pertani kami,” ungkapnya dengan antusiasme saat diwawancara di lobi Gedung Aula.
Rizki menjelaskan bahwa perannya sebagai bagian dari sub-tim pengembangan hardware melibatkan desain rangkaian sensor kelembaban tanah, sensor suhu udara, dan modul transmisi data menggunakan protokol komunikasi LoRaWAN. “Teknologi LoRaWAN dipilih karena efisiensi daya yang tinggi dan jangkauan yang luas, cocok untuk area pertanian yang tersebar,” tambahnya.
Teknologi dan Inovasi Utama
Inovasi inti dari penelitian ini terletak pada pengembangan sensor IoT low-cost yang dapat diakses oleh petani dengan keterbatasan ekonomi. Sensor-sensor ini dirancang untuk tahan terhadap kondisi iklim tropis Sulawesi Tenggara yang ekstrem, dengan material tahan korosi dan proteksi IP67 (tahan air dan debu).
Selain hardware, tim penelitian juga mengembangkan aplikasi mobile berbasis Android dan iOS yang bernama “FarmSmart.” Aplikasi ini berfungsi sebagai dashboard terintegrasi yang menampilkan data real-time dari lapangan, rekomendasi pemberian air irigasi berbasis predictive analytics, informasi harga komoditas pasar, dan forum komunikasi dengan konsultan pertanian.
“Apa yang membuat penelitian ini unik adalah pendekatan human-centered design kami,” jelas Dr. Siti Nurhaliza, M.Si., Dosen Fakultas Pertanian dan koordinator tim riset untuk aspek agronomi. “Kami tidak hanya mengembangkan teknologi canggih, tetapi memastikan bahwa teknologi ini mudah digunakan oleh petani yang mungkin tidak berpengalaman dengan digitalisasi. Setiap fitur dirancang melalui iterasi bersama dengan komunitas petani lokal.”
Dalam presentasi teknis yang disampaikan selama acara peluncuran, Tim Riset mendemonstrasikan prototype sensor pertama dengan hasil monitoring yang sangat presisi. Sensor dapat mendeteksi perubahan kelembaban tanah hingga akurasi 0,5 persen dan suhu dengan presisi 0,1 derajat Celsius.
Dukungan Institusional dan Pendanaan
Penelitian ini didukung penuh oleh Pimpinan Universitas Muhammadiyah Kendari dengan alokasi dana dari anggaran riset tahun 2026 sebesar Rp 2,5 miliar. Selain itu, program ini juga mendapat dukungan finansial dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui skema Penelitian Strategis Nasional sebesar Rp 1,8 miliar.
“Komitmen Unismuh Kendari terhadap penelitian dan pengembangan teknologi semakin kuat. Smart Farming Initiative ini adalah bukti nyata bahwa kami tidak hanya mengajar, tetapi juga menciptakan solusi inovatif untuk masyarakat,” terang Prof. Dr. H. Bahrun, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam pidato peresmian acara.
Rektor Bahrun juga menekankan bahwa penelitian ini sejalan dengan visi Unismuh Kendari untuk menjadi universitas berbasis riset yang berkontribusi langsung pada pembangunan berkelanjutan wilayah Sulawesi Tenggara. “Kami ingin mahasiswa kami tidak hanya memahami teori, tetapi juga menerapkannya untuk menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi masyarakat,” tambahnya.
Dampak dan Manfaat yang Diharapkan
Dampak penelitian ini diproyeksikan akan terasa dalam berbagai dimensi. Dari sisi ekonomi, diperkirakan adopsi sistem Smart Farming dapat meningkatkan produktivitas lahan hingga 40-50 persen dan mengurangi penggunaan air irigasi hingga 30 persen. Penghematan input produksi ini akan meningkatkan margin keuntungan petani lokal secara signifikan.
Dari sisi lingkungan, penggunaan sistem irigasi berbasis data prediktif akan mengurangi pemborosan air dan meningkatkan efisiensi penggunaan pestisida, menjaga ekosistem pertanian agar lebih berkelanjutan. Dari sisi sosial, program ini menciptakan peluang literasi digital bagi masyarakat petani dan membuka lapangan kerja baru di bidang teknologi pertanian.
“Kami target bahwa dalam tiga tahun ke depan, minimal 500 petani di Sulawesi Tenggara sudah menggunakan sistem Smart Farming ini,” jelas Dr. Ir. Bambang Setiawan. Angka tersebut setara dengan pengerjaan lahan pertanian seluas 800 hektar yang akan menerapkan teknologi inovatif ini.
Ketua Umum Poktan (Kelompok Tani) Sulawesi Sejahtera, H. Muh. Syaiful, yang hadir dalam acara peluncuran, menyampaikan respons positif dari komunitas petani. “Kami sangat antusias dengan inisiatif ini. Petani-petani kami sudah menunggu solusi seperti ini. Teknologi yang mudah digunakan dan terjangkau adalah impian kami,” ujarnya penuh harapan.
Kolaborasi dan Kemitraan Strategis
Kesuksesan penelitian ini juga didukung oleh kolaborasi dengan berbagai institusi eksternal. Universitas Muhammadiyah Kendari telah menjalin kerjasama dengan Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kendari, serta beberapa startup teknologi lokal untuk mempercepat prototipe dan implementasi lapangan.
“Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan swasta adalah kunci kesuksesan penelitian translasional seperti ini,” papar Dr. Siti Nurhaliza. Kolaborasi ini memastikan bahwa hasil penelitian bukan hanya berkualitas tinggi secara akademis, tetapi juga relevan dan aplikatif di lapangan.
Kesempatan Belajar bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari, keterlibatan dalam Smart Farming Initiative memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis mendalam, tetapi juga soft skill penting seperti kerjasama tim multidisiplin, communication skills, dan problem-solving dalam konteks riil.
Eka Putri Wijaya, mahasiswa Teknik Informatika semester 6 yang terlibat dalam pengembangan aplikasi FarmSmart, mengungkapkan bahwa pengalaman ini telah mengubah perspektifnya tentang pendidikan. “Sebelumnya, saya pikir kuliah itu hanya mendengarkan dosen dan mengerjakan tugas. Tapi di sini, saya benar-benar merasakan makna belajar sambil berkontribusi untuk perubahan sosial,” katanya dengan antusias.
Tantangan dan Rencana Ke Depan
Meskipun antusiasme tinggi, tim riset juga realistis mengakui beberapa tantangan. Salah satu tantangan utama adalah membangun trust dan literasi digital di kalangan petani yang mayoritas berusia lanjut dan belum terbiasa dengan teknologi. Untuk mengatasi ini, tim telah merancang program pelatihan dan pendampingan intensif.
Tantangan lain adalah keberlanjutan finansial setelah periode penelitian berakhir. Untuk itu, tim riset sedang mengembangkan model bisnis sosial yang memungkinkan petani untuk mengakses teknologi dengan biaya minimal namun tetap menjamin sustainability sistem.
“Kami sudah mulai merancang koperasi digital yang akan mengelola Smart Farming Initiative setelah penelitian resmi berakhir,” jelaskan Prof. Dr. H. Bahrun. “Dengan ini, inovasi tidak akan tergantung pada dana riset semata, tetapi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal yang berkelanjutan.”
Kesimpulan
Peluncuran Smart Farming Initiative Sulawesi Tenggara oleh Universitas Muhammadiyah Kendari menandai babak baru dalam komitmen perguruan tinggi lokal terhadap inovasi dan pemberdayaan masyarakat. Program penelitian ini membuktikan bahwa kolaborasi sinergis antara dosen dan mahasiswa, didukung infrastruktur kampus yang memadai dan pendanaan yang signifikan, dapat menghasilkan solusi inovatif yang mengubah paradigma industri pertanian lokal.
Dengan target ambisius namun terukur, penelitian yang dimulai pada April 2026 ini diharapkan dapat menjadi model rujukan bagi universitas lain di Indonesia dalam mengembangkan research-based entrepreneurship dan community engagement.
Sebagaimana ditekankan oleh Rektor Bahrun, “Universitas Muhammadiyah Kendari berkomitmen untuk menjadi lebih dari sekadar institusi pendidikan. Kami ingin menjadi katalis perubahan sosial ekonomi di Sulawesi Tenggara melalui kekuatan riset dan inovasi.”